Senin, 08 September 2014

BUDIDAYA BAWANG MERAH






Bawang merah (Allium ascalonicum) merupakan tanaman semusim yang banyak dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan bawang merah semakin meningkat karena hampir semua masakan membutuhkan komoditas ini. Tanaman ini dapat diandalkan sebagai sumber penghasilan petani, pendapatan negara, penyumbang keanekaragaman bahan pangan serta kecukupan gizi.

Syarat tumbuh
Bawang merah dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik di dataran rendah maupun dataran tinggi hingga sekitar 1000 m di atas permukaan laut (dpl). Namun demikian, produksi terbaik umumnya diperoleh di dataran rendah yang didukung oleh iklim yang ideal, meliputi : suhu udara berkisar 25 – 32 derajad celcius, kondisi cuaca kering dan tempat terbuka dengan penyinaran sekitar 75%.
Persyaratan tanah untuk bawang merah adalah : subur, gembur, dan banyak mengandung bahan organik. Jenis tanah yang paling baik yakitu lempung berpasir atau lempung berdebu, pH tanah 5,5 – 6,5, dan drainase serta aerasi tanah baik.
Pemilihan bibit
Bibit merupakan salah satu persyaratan teknik budidaya yang menentukan keberhasilan usahatani, termasuk usahatani bawang merah. Syarat-syarat bibit yang baik adalah : (a) sudah cukup tua (dipanen sekitar 70 hari) dan telah melalui masa penyimpanan selama 60-90 hari, (b) bila umbi dipotong 1/3 bagian, titik tumbuh nampak berwarna hijau, (c) ukuran umbi sedang (3-4 gram/umbi), (d) bernas, kulit umbi mengkilap dan tidak luka. Kebutuhan bibit sekitar 800 -1200 kg/ha.
Pengolahan lahan

Cara pengolahan tanah sangat menentukan produksi bawang merah. Untuk itu pengolahan tanah harus dilakukan sebaik mungkin. Pengolahan tanah ini meliputi 3 tahap yaitu Persiapan lahan, Pembuatan bedengan dan Pemupukan dasar. Berikut penjelasannya :
  1. Persiapan lahan dilakukan dengan cara membersihkan gulma dan menggemburkan tanah, penggemburan tanah kurang lebih sedalam 25-30 cm. Kemudian dilakukan pengecekan pH tanah, apabila pH kurang dari 5,6 sebaiknya dilakukan pengapuran menggunakan Kaptan atau Dolomit dengan dosis 1-1,5 ton/ha. Pengapuran dilakukan minimal 2 minggu sebelum tanam.
  2. Pembuatan bedengan disesuaikan dengan kebutuhan. Bedengan biasanya dibuat dengan ukuran 1,5-1,75 m, diantara bedengan dibuat parit dengan ukuran 0,5 m dan kedalaman 0,5 m.    Penaman tanpa menggunakan bedengan tidak disarankan, dikarenakan resiko genangan air yang mengakibatkan pertumbuhan negatif dan menimbulkan penyakit.
  3. Pemupukan dilakuka satu minggu sebelum penanaman menggunakan pupuk kandang dengan dosis 15-20 ton/ha atau 5-10 ton/ha kompos matang ditambah 200 kg/ha TSP. atau dapat juga menggunakan pupuk NPK (15-15-15) dosis ± 200 kg/ha.
Penanaman
Siapkan benih atau umbi bawang merah yang siap tanam. Apabila umur umbi masih kurang dari 2 bulan, lakukan pemogesan terlebih dahulu. Pemogesan adalah pemotongan bagian ujung umbi, sekitar 0,5 cm. Fungsinya untuk memecahkan masa dorman dan mempercepat tumbuhnya tananaman.
Jarak tanam untuk budidaya bawang merah pada saat musim kemarau dipadatkan hingga 15×15 cm. Sedangkan pada musim hujan setidaknya dibuat hingga 20×20 cm. Benih bawang merah ditanam dengan cara membenamkan seluruh bagian umbi kedalam tanah.
Perawatan tanaman
Penyiraman pada budidaya bawang merah hendaknya dilakukan sehari dua kali setiap pagi dan sore. Setidaknya hingga tanaman berumur 10 hari. Setelah itu, frekuensi penyiraman bisa dikurangi hingga satu hari sekali dilakukan pada pagi hari.
Cara penyiraman lainnya yakni cara ”leb” (memasukkan air ke bedengan hingga merata). Apabila digunakan cara ini (”leb”), sebaiknya dilakukan setelah tanaman berumur lebih dari 10 hari.  Pengairan secara ”leb” dapat dilakukan setiap 3 -4 hari sekali. Penyiangan pada budidaya bawang merah sebaiknya dilakukan 2 kali yakni pada saat tanaman berumur 10 -15 hari dan 28 – 35 hari (sebelum pemupukan susulan). Penyiangan dilakukan dengan mencabut gulma di sekitar tanaman.
Pemupukan
Anjuran pemupukan secara umum untuk bawang merah adalah sebagai berikut : (a) pupuk dasar berupa pupuk kandang matang (siap digunakan) sebanyak 10 t/ha, (b) pupuk Urea, SP-36 dan KCl masing-masing sebanyak 100 kg, 150-200 kg, dan 200 kg per hektar, diberikan secara larikan pada saat tanam, (c) pemupukan susulan dilakukan pada saat tanaman berumur 35 hari yakni Urea sebanyak 100 -150 kg/ha, diberikan secara larikan.
Pengendalian hama dan penyakit
Budidaya bawang merah mempunyai banyak jenis hama dan penyakit. Namun yang paling sering menyerang di sentra-sentra produksi adalah hama ulat dan penyakit layu.
 Hama ulat (Spodoptera sp.) menyerang daun, gejalanya terlihat bercak putih pada daun. Bila daun diteropong terlihat seperti gigitan ulat. Hama ini ditanggulangi dengan pemungutan manual, ulat dan telur diambil untuk dimusnahkan. Bisa juga dengan menggunakan feromon sex perangkap, gunakan sebanyak 40 buah per hektar. Bila serangan menghebat, kerusakan lebih dari 5% per rumpun daun, semprot dengan insektisida yang berbahan aktif klorfirifos.
Penyakit layu fusarium, disebabkan oleh cendawan. Gejalanya daun menguning dan seperti terpilin. Bagian pangkal batang membusuk. Penanganannya dengan mencabut tanaman yang mati kemudian membakarnya. Penyemprotan bisa menggunakan fungsidia.
Panen
Ciri-ciri budidaya bawang merah siap panen apabila 60-70% daun sudah mulai rebah. Atau, lakukan pemeriksaan umbi secara acak. Khusus untuk pembenihan umbi, tingkat kerebahan harus mencapai lebih dari 90%.
bawang merah biasanya sudah bisa dipanen setelah 55-70 hari sejak tanam. Produktivitas bawang merah dangat bervariasi tergantung dari kondisi lahan, iklim, cuaca dan varietas. Di Indonesia, produktivitas budidaya bawang merah berkisar 3-12 ton per hektar dengan rata-rata nasional 9,47 ton per hektar.
Umbi bawang merah yang telah dipanen harus dikeringkan terlebih dahulu. Penjemuran penjemuran bisa berlangsung hingga 7-14 hari. Pembalikan dilakuan setiap 2-3 hari. Bawang yang telah kering, kadar air 85%, siap untuk disimpan atau dipasarkan.


Sumber :
·         http://suksesbercocok-tanam.blogspot.com/2012/12/pedoman-singkat-budidaya-bawang-merah.html

·         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar